PENCURI IMPIAN Juli 10, 2008
Posted by Andrial Kusuma in Artikel.trackback
> Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari.
> Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan
> rekan-2nya, sehingga dia seringkali menjadi juara di
> berbagai perlombaan yang diadakan.
> Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu
> saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas
> dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina,
> Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang
> memberi tepukan kepadanya.
>
> Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari
> yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat,
> dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan
> penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali
> menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar
> tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi
> muridnya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda
> berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai
> sebuah pagelaran tari. Si gadis
> muda bertanya: “Pak, saya ingin sekali menjadi penari
> kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai
> saya menari ? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian
> saya”.
>
>
> “Oke, menarilah di depan saya selama 10
> menit”,jawab sang pakar.
>
>
> Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari
> kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu
> saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Betapa hancur si
> gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung
> berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis
> tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri.
> Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak
> ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil
> sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak
> saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan menari lagi.
>
> Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi
> ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan
> untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan
> dari sebuah toko di sudut jalan.
>
> Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota
> itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di
> belakang panggung.
> Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih.
> Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran
> tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya
> ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan
> ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali
> ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab.
>
> Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang
> mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya
> sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam.
> Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda
> langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa
> mengatakan sepatah katapun?”
>
> “Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya
> belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu
> itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya
> tidak mengerti mengapa kamu tiba-2 berhenti dari dunia
> tari”, jawab sang pakar.
>
> Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar.
>
> “Ini tidak adil”, seru si ibu muda. “Sikap
> anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian
> saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja
> ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya
> memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja.
> Mestinya saya bisa
> menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan
> toko!”
>
> Si pakar menjawab lagi dengan tenang “Tidak ….
> Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda
> tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan
> anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus
> menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus.
>
> Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka
> sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama
> saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan
> hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu
> hal yang perlu anda camkan, bahwa Anda Mestinya forkus pada
> impian Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.
>
> Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu
> sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua.
> Ada kalanya Memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Dan
> faktanya saya melihat bahwa sebagian besar Pujian yang
> diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan
> membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya
> justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa
> melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu
> sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak
> pantas Anda meminta pujian dari orang lain”.
>
> “Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele.
> Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang
> terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah
> menjadi penari kelas dunia.
>
> Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati
> Anda akan cepat hilang begitu Anda berlatih kembali. Tapi
> sakit hati karena penyesalan Anda hari ini tidak akan
> pernah bisa hilang selama-lamanya…”.
Komentar»
No comments yet — be the first.