jump to navigation

Meaning Of Life Juli 10, 2008

Posted by Andrial Kusuma in Artikel.
add a comment
    Norman Vincent Peale In The Power Of positive thinking
    Tuhan tidak membuat sesuatu yang buruk. Kita selalu mepunyai dua pilihan setiap pagi hari ” Memilih merasa nyaman tentang diri sendiri atau memilih rasa kacau terhadap diri sendiri “, Jadi, masalah penyebab kekacauan bukan sesuatu yang negatif dan segara harus dihilangkan, melainkan merupakan TANDA KITA MASIH HIDUP , Oleh karena itu selalu berpikir dengan KACA MATA POSITIVE, serta belajarlah dari masalah untuk kehidupan selanjutnya.

The HUMAN’S Value Juli 10, 2008

Posted by Andrial Kusuma in Today Opinion's, Wisdom.
Tags: ,
add a comment
    Martin Luther King
    Nilai tertinggi seorang manusia bukanlah dimana ia berpijak pada saat-saat nyaman dan menyenangkan, tetapi dimana ia berpijak pada saat-saat tantangan dan pertentangan

The Greatest Winner Juli 10, 2008

Posted by Andrial Kusuma in Today Opinion's, Wisdom.
Tags: ,
add a comment
    B. C. Forbes
  • Sejarah telah menunjukan bahwa pemenang-pemenang terkenal biasanya menemui hambatan yang menyakitkan sebelum mereka berhasil. Mereka berhasil karena tidak berkecil hati oleh Kegagalan-kegagalan Mereka.
  • Penemuan terbesar Juli 10, 2008

    Posted by Andrial Kusuma in Today Opinion's, Wisdom.
    Tags:
    add a comment
      William James
      Penemuan terbesar generasiku adalah manusia bisa mengubah kehidupan mereka dengan cara mengubah sikap pikiran mereka

    Artinya Hidup Juli 10, 2008

    Posted by Andrial Kusuma in Artikel, Today Opinion's.
    Tags: , ,
    add a comment
      Cerita ini dimulai dengan adanya pertemuan 2 anak remaja

      Ronalado ketemu dengan freddo disebuah taman pada sore hari, dan freddo dengan wajah kesalnya menceritakan kepada temannya tentang kekacauan yang terjadi pada dirinya.

      Freddo ” Semuanya Kacau “

      Ronalado ” Apanya ? “

      Freddo ” hari ini aku mengalami kesialan, terlambat 1 menit ditinggal oleh mobil antar jemputan, dan aku harus berlomba , desak-desakan untuk mendapatkan tempat duduk di angkutan umum, kehujanan pada waktu mengejar kendaraan umum, mendapati kartu absen ku yang MERAH, makan siangku tertumpah oleh minumanku sendiri, diberi tugas oleh atasan ku dengan dead line yang saat itu juga, dan pulang kerumah kembali dengan angkutan umum, serta ketinggalan kunci rumahku “

      Ronalado ” sangat berat harimu , Kawan… “,” aku membayangkan bagaimana bila hariku sama dengan mu”

      Freddo ” Tidak hari ini, hari kemarin juga sama berat dan buruknya, dan Mungkin Besok sama Saja, Aku cape , lelah untuk terus menjalani ini semua “, “selalu masalah-masalah yang aku hadapi “

      Ronalado ” Aku turut Prihatin “

      Freddo ” Bagaimana bila kamu mengambil masalahku, atau memberikan penyelesaian setiap masalahku, aku akan memberimu BOLA FRANK LAMPARD, Tabungan 100 dollar, Koleksi perangko dan CD ku “

      Ronalado ” Aku tahu satu tempat, kemarin aku kesana dan ditempat itu ada beberapa ribu orang tetapi tidak pernah ada perselisihan, selalu ada damai, dan ketenangan “

      Freddo ” Bila ada tempat seperti itu ?, bawa aku kesana sekarang kawan “

      Ronalado dan Freddo kemudian mendatangi tempat yang luas, indah, berbukit, asri, dan banyak pohon kamboja, serta Batu-batu Nisan yang terukir dengan INDAH “

      Freddo ” Apa Maksudmu ? “

      Ronalado ” Setahuku, Hanya yang sudah TIDAK ADA yang tidak mendapat Masalah ” dan ” APABILA kamu mendapat masalah , berbahagialah, karena ITU Bertanda KAMU MASIH HIDUP “

    PENCURI IMPIAN Juli 10, 2008

    Posted by Andrial Kusuma in Artikel.
    add a comment

    > Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari.
    > Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan
    > rekan-2nya, sehingga dia seringkali menjadi juara di
    > berbagai perlombaan yang diadakan.
    > Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu
    > saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas
    > dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina,
    > Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang
    > memberi tepukan kepadanya.
    >
    > Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari
    > yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat,
    > dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan
    > penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali
    > menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar
    > tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi
    > muridnya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda
    > berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai
    > sebuah pagelaran tari. Si gadis
    > muda bertanya: “Pak, saya ingin sekali menjadi penari
    > kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai
    > saya menari ? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian
    > saya”.
    >
    >
    > “Oke, menarilah di depan saya selama 10
    > menit”,jawab sang pakar.
    >
    >
    > Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari
    > kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu
    > saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Betapa hancur si
    > gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung
    > berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis
    > tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri.
    > Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak
    > ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil
    > sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak
    > saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan menari lagi.
    >
    > Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi
    > ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan
    > untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan
    > dari sebuah toko di sudut jalan.
    >
    > Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota
    > itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di
    > belakang panggung.
    > Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih.
    > Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran
    > tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya
    > ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan
    > ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali
    > ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab.
    >
    > Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang
    > mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya
    > sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam.
    > Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda
    > langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa
    > mengatakan sepatah katapun?”
    >
    > “Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya
    > belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu
    > itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya
    > tidak mengerti mengapa kamu tiba-2 berhenti dari dunia
    > tari”, jawab sang pakar.
    >
    > Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar.
    >
    > “Ini tidak adil”, seru si ibu muda. “Sikap
    > anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian
    > saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja
    > ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya
    > memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja.
    > Mestinya saya bisa
    > menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan
    > toko!”
    >
    > Si pakar menjawab lagi dengan tenang “Tidak ….
    > Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda
    > tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan
    > anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus
    > menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus.
    >
    > Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka
    > sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama
    > saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan
    > hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu
    > hal yang perlu anda camkan, bahwa Anda Mestinya forkus pada
    > impian Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.
    >
    > Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu
    > sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua.
    > Ada kalanya Memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Dan
    > faktanya saya melihat bahwa sebagian besar Pujian yang
    > diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan
    > membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya
    > justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa
    > melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu
    > sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak
    > pantas Anda meminta pujian dari orang lain”.
    >
    > “Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele.
    > Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang
    > terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah
    > menjadi penari kelas dunia.
    >
    > Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati
    > Anda akan cepat hilang begitu Anda berlatih kembali. Tapi
    > sakit hati karena penyesalan Anda hari ini tidak akan
    > pernah bisa hilang selama-lamanya…”.